Resensi Buku: 24 Wajah Billy

24 Wajah Billy

· Judul asli: The Minds of Billy Milligan
· Penulis: Daniel Keyes
· Penerjemah: Miriasti dan Meda Satrio
· Penyunting: Budhyastuti R.H.
· Penerbit: Qanita, Bandung
· Cetakan: I, Juli 2005
· Tebal: 699 halaman

William Stanley Milligan atau yang lebih dikenal dengan Billy Milligan merupakan salah seorang yang dapat mencengangkan dunia di penghujung akhir tahun 1970-an. Bagaimana tidak, coba anda bayangkan bagaimana caranya didalam tubuh seseorang dapat hidup lebih dari dua, bukan tiga atau empat kepribadian tapi melainkan 24 kepribadian yang berbeda, bahkan bertolak belakang antara satu dengan yang lainnya. Arthur, pria dengan logat inggris yang sangat cerdas dan berbakat menjadi dokter; Ragen, seorang komunis ateis yang mampu berbahasa Serbo-Kroasia, menguasai berbagai macam beladiri dan ahli senjata; Allen, jago main drum dan melukis potret wajah; Tommy, ahli melepaskan diri dari segala macam kunci; Danny, anak 14 tahun yang selalu ketakutan;dan  Adalana, seorang lesbian yang selalu kesepian merupakan sebagian tokoh kepribadian yang bersemayam di dalam tubuh Billy Milligan.

Cerita ini berawal dari ditangkapnya Billy pada bulan Oktober tahun 1977 karena melakukan berbagai tindakan kriminal berat, termasuk perampokan bersenjata, dia ditahan atas tuduhan serangkaian pemerkosaan di kampus Ohio State University. Dalam proses menyiappkan pembelaannya, para pengacara Negara yang ditugaskan membela Billy menemukan bahwa pria 22 tahun tersebut memiliki keprobadian ganda, dan 2 dari 24 pribadi yang ada padanya melakukan tindak kriminal tanpa pribadi yang lain mengetahuinya. Billy pun mengajukan pembelaan dengan dalih kegilaan-pribadi majemuk pertama yang melakukannya. Billy pun lalu dimasukkanke sejumlah rumah sakit jiwa milik negara, tempat dia memperoleh sedikit pertolongan.

Akhirnya, Billy mendapatkan perawatan dari Dr. David Caul dan mendapati bahwa pribadi-pribadi dalam dirinya bias secara sukarela bersatu kapan pun mereka ingin melakukannya. Namun, apabila bersatu terus menerus, pribadi-pribadi itu menemuan bahwa keahlian yang mereka miliki sebagai masin-masing individu akan kehilangan ketajamannya. Billy sering menyebut situasi ini dengan kalimat, “Gabungan semuanya lebih sedikit daripada jumlah dari bagian-bagian yang ada”. Setelah sepuluh tahun mendekam di rumah sakit jiwa, akhirnya  pada tahun 1988 dibebaskan. Kini ia tinggal di California dan memiliki perusahaan film Stormy Life Productions.

Novel hasil tulisan Daniel Keyes yang memiliki judul asli The Minds of Billy – terbit pertama kali 1982 di New York, AS- mampu menghadirkan sebuah kisah nyata yang dapat mengejutkan dan menguras emosi. Keyes mampu membuat cerita lebih hidup dengan memaparkannya dalam bentuk flash back (kilas balik) dengan bahasa yang lugas, ringan dan mudah dimengerti -meski pembukaan awal terasa lamban dan membosankan-. Alur cerita yang pada awalnya agak menggantung dan penuh teka-teki lambat laun menjadi semakin mengalir dan berjalan mulus dengan serita yang lebih kompleks dan lebih filmis yang membuat kita seperti membaca sebuah novel fiksi.

Hasil karya Daniel Keyes ini dapat menghadirkan sebuah realitas kehidupan nyata manusia yang dapat dimaknai dengan berbeda, tergantung dari mana sudut pandang si pembaca melihat. Billy terasa sangat dekat dengan kita karena ia bukan seorang pahlawan yang selalu benar dan menang. Ia hanya manusia yang bisa gembira, kecewa, atau sedih bahkan sedemikian frustrasinya hingga berulang kali berupaya bunuh diri-bahkan ketika sekalipun yang berada di tempat utama adalah Arthur yang sangat rasional dan menganggap bunuh diri adalah perbuatan tolol. Persis seperti pepatah, life is stranger than fiction, kehidupan nyata lebih aneh dari cerita fiksi, demikian yang tergambar dalam novel ini.

Kelemahan novel ini, jika dapat dikatakan demikian mungkin terdapat dalam penggunaan kata-kata yang tidak baku dalam beberapa dialog yang dapat mengurangi kekuatan tokoh yang mengucapkannya. Selain itu, akhir cerita yang agak menggantung –tidak adanya happy ending atau sad ending- membuat novel ini kurang greget atau menggigit seperti novel konvensional pada uumnya. Namun, mungkin memang harus demikian, karena selain tokoh utama masih hidup dan berkutat dengan dunianya yang baru setelah menjadi pribadi yang utuh, tema tentang mengenal diri memang takkan pernah berakhir, tiada titik, hanya koma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s